![]() |
| Suasana Jalan Sudirman / Dokumen Pribadi |
Gedung-gedung tinggi menjulang di kanan dan kiri jalan, lampu-lampunya menyala terang, berkilau seperti bintang yang turun lebih dekat. Dari atas jok motor, aku merasa seperti sedang melintasi lorong cahaya yang membelah jantung kota.
Aku melaju pelan, tidak terburu-buru. Jalan yang biasanya macet kini cukup lengang. Rasanya menyenangkan bisa menyalip perlahan tanpa harus terjebak di antara deretan mobil yang berhenti. Aku sempat menoleh ke atas, memandangi gedung-gedung yang menjulang. Lampu dari setiap lantai memancarkan cahaya kuning, putih, bahkan biru, seolah-olah setiap gedung punya kepribadiannya sendiri.
Saat melewati jembatan penyeberangan orang (JPO) ikonik, aku memperlambat motor. Dari bawah, jembatan itu terlihat seperti instalasi seni modern, penuh cahaya dan warna. Aku membayangkan orang-orang yang berdiri di atasnya, memotret panorama kota yang tak pernah gagal memikat. Sesaat, aku ingin berhenti dan ikut melihat dari sana, tapi aku memilih melanjutkan perjalanan, menikmati pandangan dari jok motor.
Suara deru mesin motor berpadu dengan ritme kendaraan lain. Ada mobil pribadi yang melaju tenang, ada bus TransJakarta yang masih mengantar penumpang pulang, dan ada sesekali motor lain yang menyalip cepat. Tapi entah kenapa, suasana malam ini terasa berbeda: tidak terburu-buru, tidak sesak. Semua bergerak dalam harmoni.
Di sisi jalan, aku menangkap aroma sate dari pedagang kaki lima yang masih buka. Asap tipis mengepul, terbawa angin malam. Sekilas aroma itu bercampur dengan wangi aspal yang masih hangat, menciptakan sensasi khas kota besar. Aku tersenyum kecil di balik helm. Rasanya seperti Sudirman malam ini tidak hanya menyuguhkan pemandangan, tetapi juga pengalaman yang lengkap—cahaya, suara, dan aroma yang berpadu.
Aku kembali menoleh ke atas. Gedung-gedung itu membuatku terdiam. Ada sesuatu yang melankolis dalam gemerlap lampu mereka. Seakan-akan, cahaya itu tidak hanya sekadar penerangan, tetapi juga simbol ambisi dan mimpi ribuan orang yang bekerja di dalamnya. Siang hari, gedung-gedung ini dipenuhi aktivitas: rapat, tawa, obrolan, hingga kelelahan. Tapi malam hari, mereka hanya berdiri dalam diam, menampilkan sisi terindahnya bagi siapa saja yang melintas.
Malam itu aku merasa Jakarta memperlihatkan wajah paling jujurnya. Tidak ada hiruk pikuk, tidak ada terburu-buru, hanya keindahan yang bisa dinikmati kalau kita mau melambat sejenak. Naik motor di Sudirman saat malam ternyata seperti membaca buku kota yang halamannya jarang dibuka orang.
Akhirnya aku menepi di dekat halte, mematikan mesin motor dan menoleh ke belakang. Cahaya lampu dari deretan gedung masih berpendar, seperti melambai pelan agar aku tidak segera pergi. Perjalanan sederhana malam ini justru menghadirkan pengalaman yang sulit dilupakan. Jalan Sudirman di malam hari bukan sekadar jalur protokol, melainkan panggung cahaya tempat gedung-gedung bercerita, dan aku beruntung sempat menjadi penontonnya dari atas motor.
Tags:
FEATURE
