Etika Anak di Dalam Keluarga

sumber: solusiibuattack.com 


Dalam etika di rumah, berkata jujur ​​dan meminta izin adalah hal yang penting untuk menghormati orang tua. Di rumahku, hal ini sudah menjadi kebiasaan. Aku setiap keluar rumah selalu bilang izin dan minta izin. Minta izin suatu hal kecil yang selalu aku katakan, karena jadi tanda sopan dan santun dan saling percaya di dalam keluarga. Mungkin kebiasaan ini terdengar biasa. Tapi dalam kehidupan menyimpan makna besar bagaimana cara menghargai, bertanggung jawab, dan bersikap jujur ​​dalam keluarga. Etika dalam keluarga bukan sekedar aturan, namun proses menjadi pribadi yang beretika.

Belajar jujur ​​dari hal-hal kecil

Orang tuaku mengajarkan apa arti kejujuran sejak aku kecil. Bukan hanya berkata jujur, tapi juga berani mengakui kesalahan yang dibuat dan berani bertanggung jawab. “Kalau kamu salah, bilang. Ibu nggak akan marah, asal kamu jujur,” Itu kalimat yang sering aku dengar dari ibuku. Tapi lama-lama aku paham, kalau jujur ​​itu tidak selalu dimarahin.

Kejujuran menjadi dasar yang sangat penting dalam keluarga. Kalau sudah terbiasa jujur ​​di rumah, lama-lama untuk jujur ​​ke orang lain rasanya juga lebih mudah. Dari orang tuaku, aku belajar untuk mengatakan apa adanya, dan tidak nutupin kesalahan, hal ini menjadi kebiasaan yang terbawa ke mana-mana.

Minta Izin, Bukan Karena Takut, Tapi Tanda Hormat

Selain jujur, aku juga terbiasa meminta izin setiap kali mau pergi. Apalagi hanya ke rumah teman yang jaraknya tiga rumah dari rumahku, aku tetap bilang. Minta izin itu udah jadi kebiasaan sehari-hari. Di keluargaku, meminta izin bukan berarti takut. Tapi itu bentuk rasa hormat dan tanggung jawab.

Contohnya waktu aku diajak teman-teman nongkrong malam minggu. Aku tahu, ibu pasti khawatir kalau aku keluar malam tanpa bilang. Jadi aku jelasin mau ke mana, sama siapa, dan pulangnya jam berapa. Kadang-kadang ibu hanya berkata, “Jangan pulang terlalu malam, ya,” tapi dari nada suara aku tahu dia lebih tenang karena aku terbuka.

Dan jujur ​​aja, waktu aku jujur ​​dan izin baik-baik, aku jadi lebih lega dan tidak ada rasa bersalah. Hubungan sama orang tua juga jadi lebih enak, nggak penuh kualitas.

Etika Itu Nggak Harus Serius, Tapi Harus Konsisten

Banyak orang berpikir etika itu sesuatu yang berat. Padahal, menurutku, etika itu soal kebiasaan. Kayak mengucapkan “terima kasih” setelah dibantu, atau “maaf” saat salah. Ucapan-ucapan kecil yang mungkin tidak kita sadari bisa membuat suasana rumah lebih hangat.

Contohnya, waktu aku lagi capek dan nyuruh adik ambilin air minum. Setelah dia kasih, aku bilang, “Makasih ya, Dek.” Dan dia tersenyum. Hal kecil, tapi bisa bikin hati adem. Sama kayak waktu aku bikin salah, kayak lupa matiin kompor, terus bilang, “Maaf, tadi aku lupa.” Ibu memang ngomel sedikit, tapi akhirnya malah kasih nasehat.

Jadi aku ngerasa, konsistensi mengutarakan kebaikan itu lebih penting daripada hanya terlihat sopan di depan orang lain. Kalau di rumah sudah terbiasa, di luar pun bakal kebawa.

Dari Rumah ke Dunia Luar

Etika yang aku pelajari di rumah nggak cuma berhenti di dalam rumah aja. Kebiasaan jujur dan minta izin itu kebawa sampai ke lingkungan kampus. Misalnya, waktu aku nggak bisa hadir rapat kelompok karena ada keperluan keluarga, aku bilang jujur ke temanku. Nggak pakai alasan ngada-ngada. Dan mereka ngerti.

Etika juga bikin aku lebih peka sama orang lain. Kalau di rumah diajarin buat dengerin orang tua dulu sebelum ngomong, di luar aku juga belajar buat nggak asal potong pembicaraan orang. Kalau di rumah aku diajarin buat ngaku kalau salah, di luar pun aku jadi terbiasa minta maaf kalau bikin orang lain nggak nyaman.

Perbedaan Bukan Halangan Buat Saling Menghormati

Tentu aja, nggak semua hal di rumah selalu sepemikiran. Ada masa-masanya aku punya pendapat yang beda sama orang tua. Misalnya soal jurusan kuliah. Ayahku sempat pengin aku masuk teknik, tapi aku lebih tertarik di dunia kreatif dan komunikasi. Awalnya agak alot, tapi aku coba jelasin pelan-pelan kenapa aku milih itu. Dan akhirnya, mereka ngertiin dan dukung.

Dari situ aku belajar, menghormati orang tua nggak harus selalu setuju sama mereka. Tapi cara kita menyampaikan pendapat dan tetap bersikap sopan itulah yang jadi ukuran etika. 

Buatku, etika dalam keluarga itu fondasi utama. Bukan soal peraturan kaku yang harus ditaati, tapi soal bagaimana kita tumbuh jadi pribadi yang bisa dipercaya, bisa menghargai, dan bisa bertanggung jawab.

Kejujuran, sopan santun, minta izin, dan tanggung jawab itu bukan cuma pelajaran di masa kecil. Itu bekal buat hidup. Bekal yang nggak bisa diukur nilainya tapi bakal terasa dampaknya.

Yanuar Dwi Supriyatno

Hai! Saya Yanuar Dwi Supriyatno. Calon Jurnalistik Muda. Ketika kalian membaca ini, berarti kalian memilih lebih dekat dengan saya karena semua yang diunggah dalam laman ini merupakan karya-karya saya! Terima kasih sudah mampir!

Post a Comment

Previous Post Next Post